Sorotan Utama

  • Petani jeruk mengeluhkan harga jual di tingkat petani yang jauh di bawah ideal, berbanding terbalik dengan harga di konsumen.
  • Disparitas harga ini memicu pertanyaan mengenai efektivitas dan keadilan rantai pasok produk pertanian.
  • Perlu kajian mendalam untuk memastikan petani mendapatkan imbalan yang layak dan konsumen tidak dibebani harga berlebihan.

Tuntutan Petani: Harga Ideal vs Realita Lapangan

Sejumlah peternak, khususnya yang fokus pada komoditas telur, menyuarakan keprihatinan mendalam terkait jurang lebar antara harga jual dari kandang dengan harga yang sampai ke tangan konsumen. Idealnya, harga telur dari peternak seharusnya berada di kisaran Rp 26.500 per kilogram. Namun, realitas yang terjadi di lapangan menunjukkan angka yang jauh berbeda, dengan harga di tingkat konsumen melambung hingga mencapai Rp 30.000 per kilogram.

Perbedaan nominal ini, sekecil apapun kelihatannya jika dilihat per kilogram, jika dikalkulasikan dalam skala produksi yang masif, tentu akan berdampak signifikan terhadap pendapatan para peternak. Mereka merasa hasil jerih payah mereka tidak dihargai secara pantas, sementara konsumen harus merogoh kocek lebih dalam untuk mendapatkan produk yang sama.

Membongkar Rantai Pasok: Siapa yang Diuntungkan?

Situasi ini menimbulkan pertanyaan krusial mengenai apa yang terjadi di sepanjang rantai pasok produk peternakan, khususnya telur. Mulai dari peternak, pengumpul, distributor, hingga pengecer, ada banyak tahapan yang dilalui sebelum telur sampai ke meja makan masyarakat.

Spekulasi pun muncul, mulai dari biaya operasional yang membengkak di setiap tingkatan, praktik penimbunan untuk bermain harga, hingga rendahnya daya tawar petani di hadapan para tengkulak atau distributor besar. Tanpa adanya transparansi yang memadai, sulit untuk menunjuk secara pasti titik permasalahan yang menyebabkan disparitas harga yang begitu mencolok.

Pemerintah, melalui kementerian terkait, diharapkan dapat segera melakukan intervensi untuk menelisik lebih dalam akar permasalahan ini. Studi komprehensif mengenai struktur biaya di setiap mata rantai pasok, serta evaluasi terhadap regulasi yang ada, sangat diperlukan. Hal ini penting demi menciptakan iklim usaha peternakan yang sehat, menguntungkan bagi petani, dan terjangkau bagi konsumen.

Kondisi serupa terkadang juga dihadapi oleh sektor pertanian lain. Seperti halnya dalam kasus kelangkaan dan lonjakan harga beras yang terjadi beberapa waktu lalu, yang juga mengundang perhatian publik dan pemerintah. Memastikan stabilitas harga dan keadilan bagi semua pihak dalam rantai pasok pangan merupakan tantangan berkelanjutan bagi perekonomian Indonesia. Untuk mendapatkan pemahaman lebih mendalam mengenai isu-isu ekonomi kerakyatan seperti ini, terus ikuti perkembangan berita di LokaToday News.

?️ Bagikan Pendapat Anda!